Kamis, 29 Oktober 2015

INTERUPSI KHUTBAH JUMAT

Siang ini, aku shalat Jumat di sebuah masjid Sukoharjo Kota. Saat khotbah, khotib menerangkan tentang bid'ah. Khotib berkacamata tebal dan berbaju koko putih itu memaparkan tentang berbagai hal yang menurut tuntunan agama, termasuk bid'ah. "Amalan yang tidak ada tuntunannya, tidak perlu dilakukan karena hanya sia-sia," kata khatib di mimbar Jumat.

Pak khotib berambut putih itu lalu mencontohkan salah satu bid'ah yang sering diamalkan orang jamak, yakni Tahlilan. Menurutnya, tahlilan tidak dituntunkan Rasulullah SAW. Namun di Indonesia, banyak orang yang melaksanakan tahlilan dalam peringatan hari ketujuh, ke-40, ke-100 kematian seseorang dan sebagainya.

Saat menerangkan hal itu, tiba-tiba ada salah satu jamaah pendengar khutbah yang protes sambil mengacungkan jari telunjuknya. "Interupsi! Sebaiknya tidak usah membahas Tahlilan!" kata seorang bapak-bapak berpeci hitam di shaf depanku. "Betul itu!" tambah seorang bapak berbaju batik yang duduk bersila di depanku.

Weleh, baru kali ini saya mendapati khutbah Jumat diinterupsi oleh seorang jamaah. Boleh nggak sih mengajukan interupsi di tengah khutbah Jumat?

Kamis, 10 September 2015

SAYA INI SIAPA?

Judul yang sederhana, tapi sulit untuk dijawab. Bener nggak?

Dari dulu sampai sekarang, rupanya saya tidak terlalu mengenal diri saya sendiri. Tapi sejak Rabu, 2 September 2015 lalu, saya telah mengetahui siapa saya sebenarnya.

Coach Wiwin Carana, Rabu malam pukul 19.30 itu, memaparkan bagaimana cara mengenali diri, dalam kelas Business Academy #5 di Bakso Kadipolo, Solo. Sebelum mulai memaparkan materi, pria yang akrab disapa Wiwin ini memberikan intro dengan mengatakan bahwa sebelum Anda memulai pekerjaan atau berbisnis, alangkah lebih baik terlebih dahulu memulai mengenali diri.

Sebelum memikirkan tentang branding, marketing dan yang lain, alangkah lebih baik bila semua pengusaha mengenali dirinya sendiri. Begitu kata coach Wiwin yang malam itu rapi jali mengenakan jas hitam.

Mengenali diri ini penting dalam berbisnis, sebab bisa jadi kita ini buta dengan kelemahan diri sendiri, atau sebaliknya kita nggak sadar bahwa kita punya potensi dan kemampuan lebih ketimbang orang lain.

Jangan dulu menyalahkan orang lain, karyawan misalnya, bila bisnis Anda tersendat. Coba koreksi, apakah kesalahan itu berasal dari orang lain, atau berasal dari diri sendiri.

Setelah menguasai ilmu pengenalan diri, sadar di mana kelemahan dan kelebihannya, barulah bisa mengenali karakter orang lain.

Nah malam itu, coach Wiwin membagikan tiga lembar kertas. Dua lembar untuk diisi, lembar lain untuk dibaca. Ah ternyata malam itu kami diminta untuk tes psikologi. Namun hasil tes tersebut bukan untuk orang lain, melainkan untuk kami sendiri, agar kami dapat bercermin dan mengatakan, "Oh, saya ternyata begini tho."

Kami diberi waktu lebih kurang setengah jam untuk membaca sekaligus mengisi lembar kertas tersebut. Satu nomor berisi empat opsi jawaban. Dalam lembar kertas soal terdapat 40 soal. 20 soal tentang kekuatan dan 20 soal lainnya tentang kelemahan. Nah, kami diminta untuk memilih salah satu jawaban yang paling mewakili diri kita. Kalau orang Jakarta bilang, "Ini gue banget!".

Bila di opsi jawaban itu tidak ada yang mewakili siapa diri kita, maka harus dipilih salah satu jawaban yang paling mendekati dengan kepribadian kita. Pokoknya harus pilih salah satu jawaban. Nggak boleh enggak memilih.

Saat membaca beberapa opsi tersebut, kata-katanya agak sulit untuk saya pahami. Kendati demikian, tetap saja saya harus membacanya dan memilih salah satu jawaban.

Menurut coach Wiwin, mengisi lembar tersebut sebetulnya tidak terlalu rumit. Kalau menjawabnya jujur, biasanya lekas selesai, sebab tanpa pikir dua kali sudah menemukan jawaban yang sesuai dengan karakter diri kita sebenarnya. Kalau menjawabnya tidak jujur, biasanya akan lama mengisi lembar kertas itu. Alhamdulillah, saya tergolong orang yang lekas selesai menjawab pertanyaan.

Begitu selesai membubuhkan jawaban, kami diminta untuk memindahkan jawaban tersebut ke lembar yang lain. Di lembar jawab terakhir ini tertulis empat karakter manusia, yakni Sanguinis yang populer, Koleris yang kuat, Melankolis yang sempurna dan Phlegmatis yang damai.

Dari hasil penjumlahan semua poin tadi, saya tergolong Sanguinis (16 poin)-Phlegmatis (13 poin). Sedangkan untuk karakter Koleris saya mendapat skor 4 dan Melankolis mendapatkan nilai 7. Saya sebenarnya sudah familiar dengan keempat istilah itu. Tapi lupa-lupa ingat maknanya.

Dari 40 orang peserta BA#5, jumlah Koleris paling mendominasi, lalu diikuti Melankolis, Phlegmatis dan Sanguinis.

Malam itu, saya sangat memperhatikan penjelasan coach Wiwin mengenai karakter Sanguinis. Katanya, kelompok ini terdiri atas orang-orang yang populer, suka dipuji, suka diperhatikan, senang tampil di depan umum, membuat suasana menjadi ceria, mudah bergaul dan ekspresif. Kaum ini juga tak sungkan untuk mengutarakan pendapatnya.

Tapi, Sanguinis juga memiliki sisi kelemahan. Mereka tergolong orang yang kehidupannya tidak teratur, suka menerima tugas tapi tidak pernah mwnyelesaikan tugas dengan baik, pendendam, pemaaf ulung dan sebagainya.

Mendengar penjelasan dari coach Wiwin, bertubi-tubi kata demi kata yang keluar dari coach Wiwin, menghunjam dada saya. Seolah-olah coach Wiwin bilang, "Hey, Farid, ini lho elo sebenarnya, yang nggak teratur, suka menunda pekerjaan, suka tidak konsentrasi, childish dan lainnya,". Ah, pokoknya kena banget dan jlebb jlebb jlebb deh.

Coach Wiwin malam itu juga menjelaskan tentang gabungan dua karakter. Sanguinis dengan Phlegmatis, misalnya. Orang yang memiliki kombinasi ini, maksudnya saya sendiri, tergolong manusia unik. Di satu sisi ingin tampil oke di depan umum, tapi di sisi lain kadang menarik diri dari khalayak umum. Ah, bener banget ini. Memang sungguh sulit untuk mengendalikan dua karakter yang berbeda. Saling tarik-menarik.

Dari materi tentang personal identity itu, saya jadi semakin tahu apa kelebihan dan kelemahan diri saya. Saya jadi tahu apa yang harus saya lakukan agar kehidupan dan masa depan saya jadi lebih baik daripada kemarin.

Malam itu, mulailah saya merenungkan diri. Apa yang harus saya lakukan agar jadi pribadi yang lebih baik, ya? Di tengah perenungan, saya jadi teringat kritikan yang pernah dilontarkan oleh istriku, Fitria Rakhmawati.

Menurut dia, saya tergolong orang yang disiplinnya kebangetan buruk. Sering telat, lupa menepati janji, mudah teralihkan, jarang tepat waktu dan sebagainya. Terima kasih istriku, kamu telah jujur mengkritik suamimu ini agar jadi pribadi yang lebih baik lagi. Rupanya penilaian istri saya itu klop dengan analisa dari coach Wiwin.

Malam itu juga, saya mulai berjanji pada diri saya sendiri untuk lebih disiplin. Sebab itu, saya lalu membikin jadwal kegiatan sehari-hari yang harus saya taati. Mulailah saya membuat list apa yang harus saya lakukan esok hari.

Damn, baru menulis list saja saya sudah membayangkan bagaimana saya akan melakukan berbagai aktivitas tersebut. Saya semacam mendapatkan sengatan semangat untuk memulai berbagai aktivitas. Saya ingin segera lekas bangun pagi agar daftar yang saya tulis bisa terealisasi. Jadi lebih semangat lah pokoknya.

Well, sepertinya di hari-hari berikutnya saya akan tetap mempertahankan membuat list to do. Bayangkan, pekerjaan yang seharusnya bisa saya selesaikan sepekan yang lalu, ternyata bisa saya lakukan hanya dalam jangka waktu sehari. Ya Allah, ke mana saja sih saya selama ini? Saya jadi heran pada diri saya sendiri deh.

Kelas personal identity malam itu sangat sangat sangat bermanfaat untuk diri saya. Saya jadi lebih mantap menguasai diri saya sendiri dan lebih semangat menghadapi tantangan, hari demi hari.

Senin, 07 September 2015

BONEKA SYARIFUDIN

Malam ini nonton film animasi Toy Story. Sebenarnya sudah berkali-kali film ini kutonton. Tapi entahlah, salah satu film animasi produksi Pixar Studio ini menurutku memiliki sisi 'mistis' yang mampu menyihirku untuk menontonnya berulang kali.

Saat nonton film ini, aku selalu teringat pengalaman seorang kawan yang berhubungan dengan boneka Toy Story. Lebih dari enam bulan yang lalu, kawanku itu mengajak jalan-jalan anak lelakinya ke sebuah mall di Jakarta.

Ketika melewati depan toko boneka, anaknya yang berusia 4 tahun itu merengek minta dibelikan boneka. Keduanya pun masuk ke dalam toko. Mereka tak langsung membeli boneka, tapi melihat-lihat dulu boneka apa yang sekiranya menarik hati untuk dibawa pulang.

Si anak kawanku itu mendekati almari kaca yang hanya berisi boneka karakter dalam film animasi Toy Story. "Ayah, aku mau itu, mau itu, Yah, boneka Syarifudin," kata si anak, merengek sambil menunjuk-nunjuk boneka yang di maksud.

"Yang mana, Nak?" balas si ayah.

"Yang itu, Yah, boneka Syarifudin," kata si bocah.

Kawanku itu kelihatan bingung. Berpikir sejenak. "Boneka Syarifudin? Mana ada boneka dengan nama itu?" pikir dia. Karena tak tahu boneka yang dimaksud anaknya, kawanku itu lalu menanyakan boneka tersebut ke si mbak penunggu toko.

Setelah ditanya, agak aneh juga, karena si mbak penunggu toko itu juga tak mengetahui boneka Syarifudin. Mbak penunggu toko boneka itu kemudian membukakan almari kaca yang berisi aneka boneka.

"Ini lho, Yah, boneka Syarifudin," kata si anak sambil mengambil boneka yang dia maksud. Temanku dan mbak penjaga toko langsung tertawa setelah mengetahui boneka apa yang dimaksud oleh si bocah itu.

Rupanya, boneka Syarifudin itu adalah Sheriff Woody, salah satu nama lakon dalam film Toy Story yang berpenampilan ala koboi. Hahaha. Namanya juga anak kecil, mau bilang Sheriff Woody malah jadi Syarifudin.

Jumat, 04 September 2015

PIZA PERTAMAKU

Sudah lama sebenarnya pengen bikin piza. Nyari-nyari resep, akhirnya ketemu juga dengan resep yang cocok. Bukan hanya cocok dengan mood, tapi resep juga harus mudah didapat dan selaras dengan isi dompet, hehe.

Setelah sore lalu mendapatkan keju mozarella yang nyes dan ramah di kantong, malamnya langsung eksekusi bikin piza. Namanya juga baru pertama kali bikin piza, tentu masih grotal-gratul mencampurkan aneka bahan.

Resep yang seharusnya pakai air dingin, eh, air baru setengah dingin sudah saya campurkan dengan tepung terigu. Ah nggakpapa pikirku. Tapi ternyata ini mempengaruhi pada pengistirahatan adonan. Setelah diistirahatkan lebih dari sejam, kok adonannya nggak ngembang ya?

Ah sudah lah, daripada nunggu mengistirahatkan adonan lebih lama lagi, akhirnya langsung eksekusi saja piza di dapur. Si @duniafitria sudah nglimpruk tidur di kamar. Saya masih otak-atik adonan untuk saya tuang di loyang. Topping pakai ala kadarnya. Adanya sosis ya pakai sosis. Tapi keju mozarella-nya saya tabur begitu saja di adonan. Saya sudah membayangkan akan seperti apa nanti kalau piza ini sudah jadi, pasti mulur-mulur kejunya, haha *duh, ngiler*.

Saya membiarkan oven tangkring mengerjakan tugasnya dengan baik, lebih kurang setengah jam. Setiap 10 menit saya tengok. Terlihat kejunya sudah mulai meleleh. Adonan juga mumbul dua kali lipat dari bentuk sebelumnya.

20 menit pembakaran dalam oven, kejunya 103 persen sudah mencair. Ia meluber hingga ke tepi loyang. Saat memperhatikan kejunya meleleh ke pinggir loyang, saya jadi faham mengapa tepian piza pasti dibikin agak tebal dari bagian yang lain. Rupanya tepian tebal itu jadi semacam bendungan agar si moza tak melebar ke mana-mana saat proses baking.

10 menit terakhir loyang saya keluarkan dari oven, lalu akan saya pindah ke rak oven paling atas. Tapi tiba-tiba dek @duniafitria bangun, melihat piza yang saya keluarkan. Dia usul agar menambahkan keju parut sebagai topping, sebelum pizanya masuk lagi ke oven.

Setelah 30 menit, angkat dari oven, ya inilah piza bikinan saya untuk kali pertama, hehe.

Saya masih ingat seperti apa rasa piza di Pizza Hut. Nah malam itu, saat makan piza homade by me, memori itu terulang lagi. Yammiih

KALI PERTAMA BUKA WARUNG

Hari pertama buka warung, ada saja kejadian tak terduga yang saya alami.

Pukul 09.00 WIB, Rabu, 10 Juni 2015 lalu, ceritanya saya buka dan jaga warung sendirian. Beberapa jam berlalu, tidak ada satu pembeli pun yang berkunjung ke warung saya yang berlokasi di pinggir Jl. Alkautsar, Mendungan, Kelurahan Pabelan, Kartasura, Sukoharjo.

Agak siang sekira pukul 11.00 WIB, datang seorang pembeli. Ah akhirnya ada pembeli juga, pikir saya. Senangnya bukan main. Rasa senang saya waktu itu bisa dibilang sebanding dengan perasaan harap-harap cemas, ketika akan bertemu dengan artis India favorit saya, Rani Mukherjee, barangkali, haha. Mbak Rani Mukherjee, plis, datanglah ke warung makan Ayam Slempang. Kujamu kau dengan menu ayam slempang yang nglawuhi banget! Do you know nglawuhi, Mbak Rani? :D

Si mbak pembeli pertama ini memesan ayam penyet dan nasi sepiring. Sambil menggoreng ayam, saya senyum-senyum sendiri di dapur. Untung ada sekat antara dapur dan ruang makan, jadi mbak e tidak tahu kalau saya sebenarnya senyum girang karena kedatangan pembeli. Matur tengkyu ya mbak, sudah jadi pembeli pertama di warung saya :)

"Mau minum apa, Mbak? Es teh, teh anget, jeruk?" tanyaku menawarkan minuman, setelah menghidangkan nasi ayam penyet kepada si mbak.

"Ndak minum, Mas. Ini sudah bawa minum sendiri," kata dia.

Sambil makan sendirian di warung, si mbak lebih banyak diam. Tangan kanannya mengambil suap demi suap nasi penyet ayam. Tangan kirinya sibuk memainkan smartphone layar sentuh alias tunyuk-tunyuk handphone. Yah, mainstream banget sih mbak kesibukanmu.

Biar tidak diam saja di warung, saya guyoni si mbak tadi. "Hati-hati lho mbak, hapenya nanti bisa hilang kalau makan sambil main hape."

"Kok bisa?"

"Ya siapa tahu mbak e khilaf. Pas makan, hape dikira tempe, jadinya tertelan," guyonku. Si mbak tertawa. Tapi untung tidak tersedak.

Selesai makan, si mbak bertanya berapa total harga makanan yang disantapnya. Langsung kujawab semuanya Rp 5.500. "Beneran, Mas, harganya segitu? Nggak dikorting kan ini?"

"Nggak mbak, memang harganya segitu," jawabku.

Si mbak langsung menyodorkan uang pas, lalu pergi.

Alhamdulillah, batinku. Rezeki seberapa pun saya syukuri. Namanya juga usaha, rumusnya kan step by step, sedikit demi sedikit untuk meraih rezeki.

Setelah beberapa menit sejak kepergian si mbak tadi, saya pikir-pikir lagi, kok rasanya ada yang janggal dengan hitunganku ya? Aku mengingat lagi apa saja yang dipesan pembeli pertama di WM Ayam Slempang tadi.

Ealaah, ternyata saya hanya menghitung harga lauknya dan lupa menghitung harga nasi. Hadaahh.. Tapi yoweslah, sudah terlanjur, mau diapakan lagi? Kalau saya tidak teledor menghitung, seharusnya si mbak bayar Rp 7.500.

Namanya juga pengalaman pertama buka warung. Masih grotal-gratul menghitung harga menu, menurut saya hal yang wajar. Lupa untuk menjumlahkan harga makanan adalah kekhilafan yang masih bisa diampuni. Ditambah lagi mungkin karena saya terlalu senang orang datang ke warung, sehingga saya lupa untuk memasukkan nasi dalam jumlah pembelian. Mungkin ini yang dinamakan kebahagiaan yang melenakan :D

Siang sekitar jam 11.30 WIB, adzan duhur berkumandang dari Masjid Alkautsar yang berada di sebelah barat WM Ayam Slempang.

Pintu lipat warung depan saya tutup dan hanya menyisakan satu lipatan yang tetap terbuka. Sedangkan pintu belakang saya biarkan terbuka. Warung saya tinggal sebentar karena saya mau shalat duhur di masjid.

Selepas shalat, saya kembali ke warung. Persis di depan pintu yang masih sedikit terbuka, saya melihat ada tulang ayam bagian paha, tergeletak di depan pintu. Wah, sepertinya ada yang mengusik ayam-ayamku. Aku perkirakan tersangka utamanya adalah kucing-kucing yang sering berkeliaran di sekitar warung.

Aku cek di wadah, ternyata benar, ada paha ayam yang berkurang. Tapi tak masalah, toh hanya satu paha semata yang 'hilang', jadi tidak rugi-rugi banget.

Tapi karena penasaran, akhirnya kuhitung ulang calon ayam goreng di atas meja. Haladalah! Ternyata ada 4 paha ayam yang hilang. Bisa jadi kucing yang mencuri di warungku bukan hanya satu, melainkan segerombolan kucing lapar dan tak bertuan.

Saya membayangkan gerombolan kucing dengan lahap melumat daging ayam yang gurih itu dengan nafsu makan maksimal versi kucing. Mereka bancakan, empat paha ayam disikat habis oleh segerombol kucing. Mungkin saat itu mereka juga bisa suap-suapan.

Atau bisa jadi juga hanya satu kucing yang mencuri. Satu paha ayam dia makan di warung, sedangkan tiga paha yang lain dibawa pulang untuk dia berikan ke anak-anaknya, sanak familinya atau tetangganya. Sungguh mulia sekali hatimu, Cing. Tapi aku pikir hal ini mustahil untuk dilakukan kucing.

Ah tapi sudahlah. Toh ini juga kesalahan saya yang teledor membiarkan pintu warung terbuka. Meskipun terbuka sedikit, tapi itu adalah celah yang sangat lebar bagi kucing untuk masuk ke warung.

Bahagialah selalu kau, Cing, karena telah makan enak di warungku. Gratis pula. #akurapopo

Sabtu, 15 November 2014

MOTOR BARU TUKANG SAYUR

Pagi tadi aku melihat si tukang sayur yang biasa menjajakan aneka sayuran di permukiman RT 005, menunggangi motor baru. Honda bebek PGM-FI hitam. Sambil berjalan, dia berkali-kali membunyikan klakson motor barunya. Jok belakang dipasangi box dari kayu. Di dalam box penuh dengan sayuran. Ada pula berbagai panganan yang digantungkan di luar box, di stang dan bawah stang.

Perempuan paruh baya penjual sayuran itu berhenti di depan rumah. Dia membunyikan klakson berkali-kali untuk menarik pembeli. Dua menit berlalu, namun tak ada seorang pun yang membeli sayurannya. Akhirnya dia berteriak-teriak. "Sayur-sayur, sayur e, Bu, sayur," teriaknya. Tak lama, ibu-ibu di RT 005/RW 003, Kelurahan Sumurrejo, Gunungpati, berdatangan. Mereka mulai memilih dan membeli sayur.

Ibuku tak mau kalah. Dia membeli dada ayam seperempat kilogram dan dua bungkus tempe. Ibuku kaget dengan penampilan motor baru si penjual sayur langganannya. "Pantesan aku ora krungu klakson sing biasa ne, tibakno motor e anyar tho," kata ibu. Perkataan ibu pun diamini oleh ibu-ibu lain yang masih berkerumun memilih sayur.

Jadi, ibu-ibu di lingkungan RT 005 sudah terbiasa dengan bunyi suara klakson motor lama milik penjual sayur. Bunyi klaksonnya cempreng, seperti klakson yang sudah usang dan rusak. Namun justru suara itulah yang menjadi ciri khas kedatangan tukang sayur.

Telinga ibu-ibu sudah sangat familiar dengan suara klakson itu. Tanpa dikomando dan tanpa harus teriak-teriak, bila tukang sayur sudah membunyikan klakson usang motor lamanya, maka ibu-ibu sudah tahu kalau itu adalah tanda kedatangan tukang sayur.

Telinga para ibu sudah terlanjur bertahun-tahun mendengar klakson itu. Begitu suara klakson diganti, tak seorang pun tahu tukang sayur sudah datang atau belum. Entah besok pagi dia akan menggunakan kembali motor lamanya atau bertahan dengan motor baru. Kita lihat saja besok

Selasa, 28 Oktober 2014

EBIET DAN KENANGAN MASA SMP

Di dalam bus jurusan Purwantoro-Solo, aku mendengar seorang pengamen paruh baya menyanyikan lagu 'Ayah' ciptaan Ebiet G Ade. Sudah lama aku tak mendengar lagu itu dilantunkan oleh pengamen.

Sebelum bernyanyi, pengamen itu memberikan kata sambutan dan mendoakan kepada semua yang berada di bus agar tetap berhati-hati dan selamat sampai tujuan. Betapa sopan si pengamen. Dia bukan hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tapi juga mendoakan orang lain.

Dia berturut-turut mendendangkan tiga lagu milik Ebiet. Suaranya melengking mirip suara penyair itu. Begitu selesai menyanyi, dia duduk di jok paling belakang, di sampingku.

Aku bertanya, mengapa yang dinyanyikan hanya lagu-lagu Ebiet? "Semua lagunya Ebiet tidak ditujukan untuk mendapatkan keuntungan, tapi untuk menyindir perasaan semua orang yang tak pernah diungkapkan," tuturnya.

Aku jadi teringat masa silam sewaktu di asrama SMP. Tidak pagi, siang, sore, lagu yang disetel di asrama hanya lagu-lagu Ebiet. Dulu semasa SMP lagu-lagu itu sama sekali tak aku gubris. Aku hanya tahu lagu itu enak didengar.

Tapi kini, setelah mendengar kembali lagu Ebiet, ada sesuatu yang mendesir di hati, benakku melayang ke masa SMP dulu, sembari mencerna kembali makna di setiap syairnya mengingatkanku tentang kemanusiaan dan kehidupan.